Skip to content

filsafat part 2

6 Agustus 2011

Tujuan Dan Faedah Mempelajari Filsafat

Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah suatu usaha memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah kontrol, dan tujuan seni adalah kreativitas, kesempurnaan, bentuk keindahan komunikasi dan ekspresi, maka tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan (understanding and wisdom).

Dr Oemar A. Hoesin mengatakan: Ilmu memberi kepada kita pengatahuan, dan filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran. S. Takdir Alisyahbana menulis dalam bukunya: filsafat itu dapat memberikan ketenangan pikiran dan kemantapan hati, sekalipun menghadapi maut. Dalam tujuannya yang tunggal (yaitu kebenaran) itulah letaknya kebesaran, kemuliaan, malahan kebangsawanan filsafat di antara kerja manusia yang lain. Kebenaran dalam arti yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya baginya, itulah tujuan yang tertinggi dan satu-satunya.

Bagi manusia, berfilsafat itu bererti mengatur hidupnya seinsaf-insafnya, senetral-netralnya dengan perasaan tanggung jawab, yakni tanggung jawab terhadap dasar hidup yang sedalam-dalamnya, baik Tuhan, alam, atau pun kebenaran. Radhakrishnan dalam bukunya, History of Philosophy, menyebutkan: Tugasfilsafat bukanlah sekadar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup, melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menompang dunia baru, mencetak manusia-manusia yang menjadikan penggolongan-penggolongan berdasarkan ‘nation’, ras, dan keyakinan keagamaan mengabdi kepada cita mulia kemanusiaan.

Filsafat tidak ada artinya sama sekali apabila tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya maupun dalam semangatnya. Studi filsafat harus membantu orang-orang untuk membangun keyakinan keagamaan atas dasar yang matang secara intelektual. Filsafat dapat mendukung kepercayaan keagamaan seseorang, asal saja kepercayaan tersebut tidak bergantung pada konsepsi prailmiah yang usang, yang sempit dan yang dogmatis. Urusan (concerns) utama agama ialah harmoni, pengaturan, ikatan, pengabdian, perdamaian, kejujuran, pembebasan, dan Tuhan.

Berbeda dengan pendapat Soemadi Soerjabrata, yaitu mempelajari filsafat adalah untuk mempertajamkan pikiran, maka H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup diketahui, tetapi harus dipraktekkan dalam hidup sehari-sehari. Orang mengharapkan bahwa filsafat akan memberikan kepadanya dasar-dasar pengetahuan, yang dibutuhkan untuk hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup agar dapat menjadi manusia yang baik dan bahagia. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisik (hakikat keaslian).[1]

Dalam artikelnya sunny menjelaskan kegunaan filsafat, antara lain :

1.     Filsafat menolong mendidik, membangun diri kita sendiri: dengan berpikir lebih mendalam, kita mengalami dan menyadari kerohanian kita. Rahasia hidup yang kita selidiki justru memaksa kita untuk berpikir untuk hidup sesadar-sadarnya, dan memberikan isi kepada hidup kita sendiri.

2.     Filsafat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan persoalan-persoalan dalam hidup sehari-hari. Orang yang hidup secara “dangkal” saja, tidak mudah melihat persoalan-persoalan, apalagi melihat pemecahnya. Dalam filsafat kita dilatih melihat dulu apa yang menjadi persoalan, dan ini merupakan syarat mutlak untuk memecahkannya.

3.     Filsafat memberikan pandangan yang luas, membendung “akuisme” dan “aku-sentrisme” (dalam segala hal hanya melihat dan mementingkan kepentingan dan kesenangan si aku).

4.     Filsafat merupakan latihan untuk berpikir sendiri, hingga kita takhanya ikut-ikutan saja, membuntut pada pandangan umum, percaya akan setiap semboyan dalam surat-surat kabar, tetapi secara kritis menyelidiki apa yang dikemukakan orang, mempunyai pendapat sendiri, “berdiri-sendiri”,dengan cita-cita mencari kebenaran.

5.     Filsafat memberikan dasar-dasar, baik untuk hidup kita sendiri (terutama dalam etika) maupun untuk ilmu-ilmu pengetahuan dan lainnya, seperti sosiologi, ilmu jiwa, ilmu mendidik, dan sebagainya.[2]

Latar Belakang Munculnya Filsafat

Filsafat, terutama Filsafat barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M.. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirkan dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada [agama] lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.

Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “Komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat.[3]

Buku karangan plato yg terkenal adalah berjudul “etika, republik, apologi, phaedo, dan krito”.

            Berfilsafat dapat dilakukan oleh seluruh manusia. Dalam sejarah tidak tercata bahwasannya hewan dapar berfilsafat, karena hewan tidak dapat bertanya. Kemunculan filsafat bersamaan dengan munculnya manusia di muka bumi. Menurut C.A can can peursen, bertanya merupakan tali pengikat antara manusia dan peristiwa.

            Dalam kata lain, setelah bertanya, manusia melakukan refleksi. Dalam peristiwa alam itu seakan-akan ia melihat cermindirinya sendiri. Ketika memandang bunga-bunga berguguran, seakan-akan melihat perjalanan hidupnya sendiri sebaai manusia. Seperti halnya bunga yang mekar, layu, berguguran ditiup angin, demikian pula dia memandang nasibnya sendiri sebagai manusia yang lahir, kemudian dewasa, kemudian tua, kemudian mati.

Kegiatan berfilsafat pada manusiaberawal dari rasa heran, kesangsian dan kesadaran akan keterbatasan.[4]

1.     Rasa heran

Betrfilsafat, berarti bertanya-tanya disertai rasa heran dan kagum. Plato misalnya, mengatakan bahwa filsafat berawal denan dorongan untuk menyelidiki bintang-bintang, matahari, dan langit yang kita pandang. Dari penyelidikan itulah muncul filsafat.

2.     Kesangsian

Filsafat jga diawali dengan rasa sansi. Manusia menyangsikan apa yan dilihat oleh indranya. Ia bertanya-tanya, jangan-jangan yang dilihatnya hanya suatu tipuan. Dalam kata lain, manusia ingin kepastian.

3.     Kesadaran akan keterbatasan

Manusia mulai berfilsafat ketika ia menyadari betapa kecil, lemah dan tak berarti dirinya di tengah alam semesta yang maha luas, kuat, dan dahsyat. Pengalamannya juga menunjukkan betapa manusia itu tak berdaya. Ini dialami, misalnya ketika berhadapan dengan tebin terjal, , atau gunung api yang sedang memuntahkan lava, . atau tatkala menyaksikan gelombang pasang yang mengancam kehidupan nelayan. Atau longsor yang memakan korban.

Daftar Pustaka

Admin. Filsafat (http:// id. wikipedia. org/ wiki/ Filsafat# Munculnya_ Filsafat)

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_filsafat/Bab_1.pdf

http:// usupress. usu. ac. id/ files/ Filsafat% 20Ilmu% 20dan% 20Metode% 20Riset_ Normal_ bab% 201.pdf

Sunny. 2009. kepentingan filsafat (http:// kuliahfilsafat. blogspot. com/ 2009/ 04/ kepentingan- filsafat. Html


[1] http:// usupress. usu. ac. id/ files/ Filsafat% 20Ilmu% 20dan% 20Metode% 20Riset_ Normal_ bab% 201.pdf

[2] Sunny. 2009. kepentingan filsafat (http:// kuliahfilsafat. blogspot. com/ 2009/ 04/ kepentingan- filsafat. html

[3] Admin. Filsafat (http:// id. wikipedia. org/ wiki/ Filsafat# Munculnya_ Filsafat)

Iklan
Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: